Adanya Larangan Mudik, Pengrajin Telur Asin Batasi Jumlah Produksi

Vimanews-BREBES – Para pengrajin telur asin di Kabupaten Brebes terpaksa harus membatasi jumlah produksi. Itu setelah pemerintah mengeluarkan larangan mudik lebaran Idul Fitri tahun ini. Mereka memastikan adanya larangan mudik tersebut, tentu akan mengurangi jumlah pembeli.

Dinah (52) pengrajin telur asin asal Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasari ini mengaku harus membatasi jumlah produksi telur asin untuk mengantisipasi kerugian yang besar. “Sejak kemunculan covid-19, saya sudah tidak memproduksi telur asin dalam jumlah banyak,” terang Dinah.

Untuk saat ini saja, tambah dia, dirinya hanya memproduksi sekitar 10 ribu butir. Jumlah itu jauh menurun dibanding kondisi normal yang mencapai 70 ribu butir. Pemilik merek HTM ini merasakan, mudik lebaran tahun lalu tidak banyak telur asin produksinya yang terjual.

“Dengan adanya larangan mudik tahun ini, tentu penjualan telur asin tidak jauh berbeda dengan tahun lalu yang sepi pembeli,”katanya. Dia menyebut, sudah dua tahun ini dirinya juga tidak banyak mempekerjakan orang. “Paling hanya 2 orang saja, padahal biasanya bisa mencapai 10 orang,” tambah dia.

Keluhan serupa juga dirasakan oleh Didit (46). Perajin telur asin Tip Top di Kelurahan Gandasuli ini mengungkapkan, pandemi ini telah menurunkan jumlah penjualan hingga 90 persen. Biasanya dalam sehari di luar suasana mudik, Didit mampu menjual 4 ribu butir. Sedangkan dalam suasana mudik dan balik lebaran, bisa tembus 15 ribu butir per hari.

“Suasan pandemi menyebabkan omset turun. Pada awal puasa, biasanya produksi 4 ribu butir telur asin untuk memenuhi kebutuhan warga. Karena jumlah pembeli turun, tidak habis sampai munggu ke dua puasa. Terpaksa telur diobral Rp.1500 per butir dari harga normal Rp.3300,” ungkapnya.

Selain pengrajin, keluhan juga datang dari para pemilik toko oleh-oleh di Brebes. Dhani Bagus Purnama pemilik toko Yes ini mengaku tidak banyak menyediakan telur asin di tokonya. Adanya larangan mudik lebaran tentu akan mengurangi jumlah pengunjung yang datang ke tokonya.

Bahkan kondisi itu sudah dirasakan pada lebaran tahun lalu. Dimana dirinya hanya bisa menjual telur asin sebanyak 2000 butir tiap harinya. Padahal normalnya, disaat musim mudik lebaran tokonya bisa menjual teluh hingga 20 ribu butir tiap harinya.

Dia pun mengaku hanya bisa pasrah dengan adanya larangan mudik tahun ini. “Mau bagaimana lagi, sebagai pedagang saya hanya bisa pasrah dengan adanya larangan mudik tahun ini,” pungkasnya. (Harviyanto)

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

error: Content is protected !!